Masya Allah, Ini yang Dilakukan Para Ulama Sebelum Berangkat ke Tempat Gurunya

- Januari 20, 2019
Pergi mengaji
ilustrasi santri pergi mengaji (500px)
Ada banyak adab yang dulu dilakukan oleh para ulama, kini seakan asing karena jarang yang mengerjakannya. Di antaranya adalah adab murid sebelum berangkat ke tempat gurunya untuk belajar ilmu agama.

Dua di antara adab yang kini banyak ditinggalkan adalah sedekah dan berdoa sebelum berangkat ke tempat sang guru.

Imam Nawawi rahimahullah dalam buku At Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur’an menuliskan dua adab tersebut:

Sebagian salaf jika berangkat ke tempat gurunya, mereka terlebih dahulu berinfak dan berdoa:

اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي

“Ya Allah tutuplah aib guruku dariku dan jangan halangi aku mendapatkan berkah ilmunya.”

Demikianlah para pendahulu kita, para ulama kita. Mereka belajar untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Sehingga mereka memahami ilmu itu dan bisa mengamalkannya.

Mereka tidak belajar untuk mengungguli gurunya agar dikatakan sebagai orang yang lebih pandai. Tidak. Karenanya mereka tidak ingin melihat aib dari gurunya, apalagi mengkritisinya dengan menunjukkan aibnya.

Yang ia tuju dari belajar ilmu adalah kepahaman terhadap agama, lebih mengenal Allah serta meningkatkan rasa takut kepadaNya. Karena itulah kita lihat betapa para ulama itu kemudian dimudahkan Allah dan diberkahiNya. Sehingga ilmu mereka bermanfaat hingga generasi kita dan insya Allah hingga generasi terakhir umat manusia.

Ini juga mengingatkan kita untuk lebih membersihkan hati saat mempelajari ilmu agama. Agar kita belajar hanya dengan tujuan mendapatkan ridha dan berkahNya. Bukan untuk riya’, bukan untuk disebut alim, bukan untuk mencari dunia, bukan untuk mengejar popularitas.

Betapa ruginya jika kita tidak ikhlas saat mencari ilmu dan ketika telah mendapatkannya. Sebab di akhirat nanti, di antara orang yang pertama diseret ke neraka adalah orang yang berilmu namun tidak ikhlas. Ia mengajar dan menyebarkan ilmunya dengan tujuan agar disebut sebagai orang alim.

Maka mari kembali menata niat kita. Terus memperbarui niat kita agar ikhlas dalam mencari ilmu, mengamalkan dan menebarkannya. Juga memperbaiki adab kita kepada guru, sehingga berkah ilmu yang kita peroleh dari beliau. [Muchlisin BK/Fimadani]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search