Wah, Bela Saudi Mati-Matian, Qari Ini Dendangkan Nasyid Kontroversial

- November 29, 2018
Pamor Arab Saudi mulai turun semenjak kasus Jamal Khashoggi mencuat ke seluruh penjuru dunia. Banyak pihak yang mendesak pemerintah Arab Saudi untuk menjatuhkan hukuman kepada Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman yang diduga sebagai dalang dari kasus pembunuhan sadis tersebut. Sementara itu, ada pula pihak yang membela Arab Saudi mati-matian.

Pembelaan datang dari negara-negara teluk seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait. Bahkan, seorang qari (pembaca) Al-Qur`an internasional pun turut bersuara.

Nama qari yang berasal dari Kuwait dan memiliki suara merdu itu tidak asing bagi para qari di dunia. Dialah Mishari Rashid Alafasy, lulusan Universitas Islam Madinah. Nasyid baru tersebut diciptakan khusus untuk membela Arab Saudi.

“Nasyid ini adalah bantahan bagi orang-orang yang tidak suka pada Arab Saudi,” ujar Alafasy dalam sebuah wawancara seperti dilansir arabi21.

Nasyid yang berdurasi 2:30 menit itu berjudul As-Sa’udiyyah Khath Ahmar (Arab Saudi Adalah Garis Merah). Maksud istilah garis merah adalah tidak boleh disentuh dan diganggu. Jadi, dalam nasyid ini Alafasy menegaskan bahwa Arab Saudi, Raja Salman, dan Putra Mahkota tidak boleh disentuh oleh hukum.

Lirik nasyid ini menggunakan dialek harian bahasa Arab (Ammiyah) bukan dialek formal (Fush-hah). Di antara liriknya adalah sebagai berikut:

Kami adalah penjaga negeri wahai penguasa negeri 

Demi Allah, kami tidak akan pernah menuduh dan melawan negeri kami 

Wahai negeri kami, sungguh kami adalah pagar dan bentengmu 

Kemuliaan ada pada kami dan kesetiaan adalah milik kami 

Wahai Abu Fahd (Raja Salman) sang penguasa, semoga kamu mempunyai umur panjang

Dalam lirik selanjutnya disebutkan sikap pembelaannya terhadap Arab Saudi.

Kami orang-orang dewasa dan anak-anak datang dari ujung negeri 

Berjanji untuk bersama-sama membela Saudi 

Inilah nasihat guru kami yang mulia 

Syaikh Abu Nashir (Amir Kuwait) sang pembela negeri

Nasyid yang dibawakan oleh Alafasy tersebut ditanggapi beragam oleh para warganet.

“Alafasy sudah tidak fokus pada Al-Qur`an. Ia telah berubah menjadi alat dan kaki tangan pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA),” ujar salah seorang warganet.

Beberapa tahun terakhir, pernyataan Alafasy sering menyulut kontroversi. Terutama ketika dia menyatakan anti terhadap gerakan Revolusi Musim Semi Arab yang terjadi di Suriah, Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman.

Sebelumnya, Alafasy juga meluncurkan sebuah nasyid tentang kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman ke Kuwait pada akhir September 2018 lalu.

Alafasy menuturkan dalam nasyidnya,

Engkau adalah harapan, engkau adalah tekad 

Datang dari negeri Salman yang tegas 

Penjaga negeri dan para tamu 

Lihatlah, kami adalah saudaramu yang setia

[Abu Syafiq/Fimadani]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search